Membentuk Generasi Cerdas, Sholeh, Muslih Waj'alna Lil Muttaqina Imama

 Pesan di Dalam Kemuliaan Nasab Rasulullah S.A.W.

Pesan di Dalam Kemuliaan Nasab Rasulullah S.A.W.

Bandung Barat - Ar-Risalah Cisarua

 

Pesan di Dalam Kemuliaan Nasab Rasulullah S.A.W.

 

1- Nasab yang Mulia, Amanah yang Agung

 

Kemuliaan Nabi, adalah dibangun dari 2 dimensi:


1). Dimensi wahyu


Allah berfirman:


اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ. (الأنعام : ١٢٤)


“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya.” (QS. Al-An‘ām: 124)

 

2). Dimensi Nasab


Rasulullah ﷺ sendiri bersabda:

 

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ. (رواه مسلم)


“Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim)

 

Maka ungkapan:


[اِخْتَارَهُ اللهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا مِنْ أَوْسَطِ الْعَرَبِ نَسَبًا]

 

mengandung makna yang sangat dalam:

Allah memilih beliau sebagai pemberi petunjuk yang juga memperoleh petunjuk, dari nasab yang berada pada kedudukan mulia di antara bangsa Arab.


Ini bisa ditinjau dari beberapa sudut pandang, diantaranya:


1. Dari inti Quraisy (من صميم قريش):

 

Quraisy bukan sekadar sebuah nama kabilah. Mereka mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan Makkah: mengurus Ka'bah, melayani jamaah haji, dan mempunyai pengaruh besar dalam perdagangan serta kehidupan sosial Arab.

 

Pelajaran: 
"Kemuliaan nasab adalah nikmat, tetapi bukan jaminan keselamatan"

 

Contoh:
"Abu Lahab juga berasal dari Quraisy dan bahkan dari Bani Hasyim. Tetapi kedekatan nasab tidak menyelamatkannya dari kekufuran. Sebaliknya, Bilal r.a. bukan dari keluarga bangsawan Quraisy. Namun ia menjadi salah seorang manusia yang sangat mulia di sisi Allah.

 

Allah berfirman:


إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ. (الحجرات: ١٣)


“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Ḥujurāt: 13)

 

Kata Pengingat:

 

.النَّسَبُ يَرْفَعُكَ بَيْنَ النَّاسِ، وَالتَّقْوَى تَرْفَعُكَ عِنْدَ اللهِ

 

“Nasab dapat mengangkat kedudukanmu di tengah manusia, sedangkan takwa mengangkat kedudukanmu di sisi Allah.”

 

2. Tidak ada yang dipandang rendah atau hina (ليس فيهم مسترذَلٌ): 

 

Ini menggambarkan kemuliaan dan kehormatan para leluhur Rasulullah ﷺ dalam struktur sosial Arab.
Tetapi kita harus membacanya dengan adab ilmiah. Kemuliaan seseorang tidak boleh hanya dibangun atas fanatisme keturunan.

 

Islam datang untuk membersihkan manusia dari ‘ashabiyyah. Rasulullah ﷺ bersabda:

 

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّة. (رواه أبو داود)


“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme kesukuan.” (HR. Abu Dawud).

 

Karena itu, ketika kita membicarakan kemuliaan nasab Nabi ﷺ, tujuan utamanya bukan membangkitkan kesombongan keturunan, tetapi mengenalkan besarnya nikmat Allah yang terkumpul pada diri beliau ﷺ.

 

3. Para ibu dari leluhur beliau juga disebut berasal dari kabilah-kabilah yang tinggi kedudukannya (أُمَّهَاتُ آبَائِهِ مِنْ أَرْفَعِ قَبَائِلِهِنَّ شَأْنًا):

 

Ini mengajarkan sesuatu yang sering terlupakan:

 

- Kemuliaan seorang generasi tidak hanya dibentuk oleh garis ayah, tetapi juga oleh kemuliaan ibu.


- Dalam sejarah manusia, ibu adalah madrasah pertama. Karena itu, ketika membicarakan Rasulullah ﷺ, kita tidak hanya mengenang Abdullah bin Abdul Muththalib, tetapi juga Sayyidah Āminah رضي الله عنها sebagai ibu beliau.


- Di balik seorang anak yang besar, sering terdapat seorang ibu yang doanya jauh lebih besar daripada apa yang diketahui manusia.


4. Para leluhur Nabi, senantiasa dibina dengan hubungan perkawinan sah (وَكُلُّ اجْتِمَاعٍ بَيْنَ آبَائِهِ وَأُمَّهَاتِهِ كَانَ شَرْعِيًّا):

 

dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hubungan perkawinan para leluhur Rasulullah ﷺ, tidak berasal dari sifāḥ atau perzinaan.

 

Artinya, Allah menjaga kehormatan dan kedudukan Rasul-Nya merupakan bagian dari penghormatan kepada beliau ﷺ.

 

 

Pelajaran Penting: 

 

1. Kemuliaan nasab harus berbuah kemuliaan akhlak.

 

Jangan Tanyakan:
“Siapa leluhurmu?”


Tetapi tanyakan:
“Apa yang engkau lakukan dengan kemuliaan yang Allah titipkan kepadamu?”

 

Rasulullah ﷺ memiliki nasab paling mulia, tetapi beliau hidup dengan tawadhu‘.


Beliau adalah manusia paling mulia, tetapi duduk bersama orang miskin.


Beliau adalah pemimpin umat, tetapi membantu keluarganya.


Beliau adalah kekasih Allah, tetapi paling banyak beristighfar.


Maka semakin tinggi seseorang dalam pandangan Allah, semakin dalam pula kerendahan hatinya di hadapan Allah.

 

.كُلَّمَا ازْدَادَ الْعَبْدُ شَرَفًا، ازْدَادَ لِلَّهِ تَوَاضُعًا


“Semakin seorang hamba bertambah kemuliaannya, semakin bertambah pula tawadhu‘-nya kepada Allah.”

 

 

2. Kemulian nasab bukan untuk berbangga dengan nasab, tetapi agar kita membangun nasib kita di akhirat.

 

Jangan berkata:
“Aku keturunan siapa?”

 

sebelum bertanya:
“Aku menjadi siapa di hadapan Allah?”

 

- Jangan hanya menjaga nama keluarga, tetapi jagalah nama baik agama.

- Jangan hanya mewarisi darah orang-orang saleh, tetapi warisilah ilmu, adab, dzikir, perjuangan, dan keikhlasan mereka.

 

Intinya: 

 

.لَيْسَ الشَّرَفُ أَنْ تَنْتَسِبَ إِلَى الْكِرَامِ فَقَطْ، وَلَكِنَّ الشَّرَفَ أَنْ تَكُونَ عَلَى طَرِيقِ الْكِرَامِ

 

“Kemuliaan bukan sekadar engkau bernasab kepada orang-orang mulia; tetapi kemuliaan adalah ketika engkau berjalan di atas jalan orang-orang mulia.”

 

Dan jalan kemulian umat Nabi Muhammad s.a.w. itu adalah iman, ilmu, mahabbah, adab, sunnah, dan istiqamah.


Ngaji malam Jum'at, 10 September 2026, Santri Ar-Risalah. Kitab Nurul Yaqin Fi Sirati Sayyidil Mursalin -shallallahu 'alihi Wasallama-.

(Dr. KH. Mohammad Rofiqul A'la, Lc., MA.)***


Share :


Jazakalloh Khoir Telah Menjadi Bagian Jaringan Penyebar Media ARRISALAH.ID