Membentuk Generasi Cerdas, Sholeh, Muslih Waj'alna Lil Muttaqina Imama

 Hikmah ke-219: Gelisah dan Sedih karena Belum Melihat Allah dalam Segala Urusan

Hikmah ke-219: Gelisah dan Sedih karena Belum Melihat Allah dalam Segala Urusan

Bandung Barat - Ar-Risalah Cisarua

 

Kitab Al-Hikam merupakan salah satu kitab tasawuf yang sangat terkenal dan banyak dipelajari di pondok pesantren. Kitab ini ditulis oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari, seorang ulama besar yang dikenal melalui nasihat-nasihatnya tentang penyucian hati, tawakal, ikhlas, dan hubungan seorang hamba dengan Allah.

 

Salah satu hikmah yang sangat menyentuh hati adalah Hikmah ke-219:

 

ماَتَجِدُهُ اْلقُلُوْبُ مِنَ اْلهُمُوْمِ وَاْلاَحْزَانِ فَلِاَجْلِ مَامُّنِعَتْ مِنْ وُجُوْدِ اْلعِيَانِ

“Tidaklah hati merasa gelisah terhadap masa depan dan sedih terhadap apa yang telah berlalu, kecuali karena hati itu belum menyaksikan Allah sebagai Pengatur segala urusannya.”

 

Manusia pasti pernah merasa gelisah. Gelisah memikirkan masa depan, takut gagal, takut kehilangan, atau takut hidupnya tidak berjalan sesuai harapan. Begitu juga dengan kesedihan terhadap masa lalu, terhadap sesuatu yang sudah terjadi dan sulit dilupakan.

 

Dalam Hikmah ke-219, dijelaskan bahwa akar dari semua kegelisahan itu adalah karena hati belum benar-benar melihat Allah. Maksudnya bukan melihat dengan mata, tetapi hati belum menyadari bahwa Allah selalu hadir, mengatur, menjaga, dan menentukan segala sesuatu dengan penuh hikmah dan kasih sayang.

 

Gelisah dan Sedih Berasal dari Hati

 

Perasaan gelisah muncul karena hati menggantungkan diri pada sesuatu yang belum terjadi. Sedangkan sedih muncul karena hati terlalu terpaut pada sesuatu yang sudah berlalu. Padahal seorang mukmin diajarkan untuk yakin bahwa semua yang terjadi berada dalam ketentuan Allah.

 

Ketika hati jauh dari Allah, maka masalah kecil terasa besar. Tetapi ketika hati dekat kepada Allah, masalah besar pun terasa ringan, karena ia tahu bahwa semua sudah berada dalam pengaturan-Nya. Orang yang dekat dengan Allah biasanya memiliki hati yang lebih tenang. Bukan karena hidupnya tanpa masalah, tetapi karena ia percaya bahwa Allah tidak akan mendzalimi hamba-Nya sendiri.

 

Sering kali kegelisahan muncul karena manusia terlalu fokus pada urusan dunia dan sebab akibatnya. Hati sibuk memikirkan “bagaimana nanti?”, “bagaimana jika gagal?”, atau “bagaimana jika kehilangan?”, sampai lupa bahwa semua sudah berada dalam pengaturan Allah. Begitu juga dengan kesedihan. Kadang hati terlalu melekat pada sesuatu yang sudah berlalu, padahal apa yang Allah ambil berarti memang bukan lagi bagian kita. Dan apa yang Allah simpan, pasti memiliki hikmah di baliknya.

 

Dalam catatan hikmah disebutkan dua sifat Allah:

 

1. Al-Hakim (الحكيم) — Allah Maha Bijaksana

Apa pun yang Allah tetapkan pasti mengandung hikmah, walaupun manusia belum memahaminya saat ini. Tidak ada takdir Allah yang sia-sia. Bahkan luka, kehilangan, dan ujian pun bisa menjadi jalan untuk mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.

 

2. Ar-Rahim (الرحيم) — Allah Maha Penyayang

Begitu juga kasih sayang Allah. Terkadang sesuatu yang kita anggap buruk justru menyelamatkan kita dari keburukan yang lebih besar. Dan sesuatu yang kita anggap baik belum tentu benar-benar baik bagi kehidupan kita. Karena itu, seorang hamba belajar untuk percaya kepada skenario Allah.

 

Kisah Nabi Yusuf: Bukti bahwa Skenario Allah Selalu Indah

 

Salah satu kisah terbaik dalam Al-Qur’an adalah kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Beliau dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, difitnah, lalu dipenjara bertahun-tahun. Jika dilihat sepintas, hidup Nabi Yusuf penuh penderitaan. Namun ternyata semua kejadian itu adalah jalan Allah untuk mengangkat derajat beliau. Dari sumur menuju istana, dari penjara menuju kemuliaan.

 

Dari kisah ini kita belajar bahwa: Tidak semua kesedihan berarti keburukan, tidak semua kehilangan berarti kehancuran, dan tidak semua penantian berarti Allah meninggalkan kita. Terkadang Allah sedang menyusun sesuatu yang lebih indah daripada yang kita bayangkan.

 

Penyebab Hati Mudah Gelisah

 

Beberapa sebab hati mudah gelisah antara lain:

1. Hilangnya sifat wahdaniyah dari pemahaman kita
Ketika hati mulai lupa bahwa Allah adalah pengatur seluruh kehidupan, manusia akan mudah merasa takut, khawatir, dan bergantung penuh kepada makhluk. Akibatnya, hati menjadi gelisah karena terlalu berharap kepada selain Allah dan lupa tempat bersandar yang sebenarnya.


2. Kita tidak melihat pengaturan Allah yang berlaku di dunia
Sering kali manusia hanya melihat kejadian secara lahiriah, tetapi tidak menyadari bahwa di balik semuanya ada takdir dan pengaturan Allah yang sangat sempurna. Ketika seseorang tidak menyadari hal ini, ia akan mudah mengeluh, kecewa, dan merasa hidup berjalan semaunya tanpa arah.


3. Kita terlalu tenggelam dengan hukum dunia sebab akibat
Manusia memang diperintahkan untuk berusaha, tetapi hati tidak boleh hanya bergantung pada sebab-sebab duniawi. Terlalu fokus pada logika sebab akibat membuat seseorang merasa semua keberhasilan murni karena usaha dirinya, dan semua kegagalan berarti akhir dari segalanya. Padahal, di atas segala sebab ada kehendak Allah yang menentukan hasil akhirnya.

 

Jika hari ini hati masih sering gelisah tentang masa depan dan sedih terhadap masa lalu, maka mungkin hati kita masih terlalu sibuk melihat dunia dan lupa melihat Allah.  Belajarlah percaya kepada ketetapan-Nya. Apa yang telah pergi tidak akan kembali tanpa izin-Nya, dan apa yang menjadi rezekimu tidak akan tertukar. Karena sebaik-baik penulis skenario hidup adalah Allah sendiri.

 

"Andaikan sejarah hidupmu itu jelek, ketika engkau ceritakan, ceritakanlah dengan kebaikan. Karena penulis skenario hidupmu adalah Allah." - Abah Yai Rofiq


Share :


Jazakalloh Khoir Telah Menjadi Bagian Jaringan Penyebar Media ARRISALAH.ID