Bandung Barat - Ar-Risalah Cisarua
Ahad, 13 Oktober 2025, keluarga besar Pondok Pesantren Ar-Risalah kembali menggelar kegiatan rutin Ngajagi (Ngaji Keluarga Santri Ar-Risalah) yang dilaksanakan setiap pekan kedua setiap bulan. Dalam kesempatan kali ini, Abah menyampaikan tausiyah yang mendalam di tengah derasnya arus informasi dan isu yang berkembang di media sosial.
Abah mengawali nasihatnya dengan menyinggung fenomena yang akhir-akhir ini ramai di media sosial. “Akhir-akhir ini di media sosial kita menemukan gerakan-gerakan yang masif, terstruktur, dan dilakukan oleh orang-orang tertentu,” ujar Abah. Gerakan-gerakan tersebut, meski tampak sepele, ternyata mampu memengaruhi cara berpikir banyak orang.
Menurut Abah, upaya ini bukan hal baru. “Gerakan ini sudah berjalan tiga tahun terakhir, tujuannya adalah untuk melemahkan salah satu kekuatan besar bangsa Indonesia — yaitu muslim dengan keilmuannya, islam dengan kyainya juga dengan astaidz dan santri-santri pondok pesantrennya.” Beliau menegaskan bahwa ada usaha untuk memisahkan umat dari para ulama dan habaib, hingga membuat sebagian orang mulai tidak percaya pada pesantren, bahkan membenci dzurriyah Rasulullah ﷺ.
Namun di balik kondisi itu, Abah mengungkapkan rasa syukurnya. “Saya senang karena ada beberapa wali santri yang bertanya, ‘Kyai, apa yang harus kami lakukan menghadapi hal ini?’” ujar beliau. Pertanyaan itu menunjukkan keperdulian dan sikap yang benar. “Tidak perlu membuat jalan sendiri, tidak perlu mengambil keputusan sendiri, tapi bertanya. Karena itu, pertanyaan seperti ini penting untuk kita renungkan bersama. Jangan sampai kita yang berada di pesantren tanpa sadar malah ikut dalam gerakan yang menjelekkan nama pondok pesantren.”
Abah kemudian menjelaskan bahwa agama Islam adalah agama Allah. “Agama ini bukan buatan manusia. Dalam kondisi apapun, Allah punya cara untuk membela agama-Nya. Yang menjaga pesantren bukan kyai, bukan habaib, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tegas Abah.
Beliau mengingatkan kisah Nabi ﷺ saat perang Khandaq, ketika beliau memukul batu besar hingga memercik cahaya, lalu bersabda, “Agama ini akan sampai sejauh siang dan malam menjangkau.” Pesan dari peristiwa itu jelas — Islam akan terus berkembang dan dijaga oleh Allah sendiri.
Abah melanjutkan dengan mengisahkan sejarah Islam. “Ketika Baghdad runtuh dan Sungai Dajlah merah oleh darah, justru Islam menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Itu karena Allah sendiri yang menjaga agama ini.” Beliau menceritakan bagaimana para ashhabus sufun (para sahabat yang berlayar) datang ke Nusantara membawa cahaya Islam. “Saya pernah melewati daerah dari Medan menuju Aceh, di sana ada kuburan-kuburan tua yang disinyalir sebagai makam para ashhabus sufun. Itulah generasi awal pembawa Islam ke negeri ini.”
Bahkan, lanjut Abah, ketika sebagian orang Mekkah murtad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, justru kabilah Thaif — yang dahulu melempari Nabi dengan batu — tetap teguh dalam Islam. “Itulah bukti bahwa Allah punya cara sendiri untuk menjaga agama-Nya,” jelas Abah. Karena itu, Abah menegaskan agar umat Islam tidak perlu takut terhadap upaya-upaya yang ingin melemahkan pesantren. “Yang jaga pesantren adalah Allah. Maka tugas kita adalah tetap melakukan apa yang bisa kita lakukan sebaik mungkin. Yang ngaji tetap ngaji, yang mondok tetap mondok. Wa’ bud rabbaka hatta ya’tiyakal yaqin — sembahlah Tuhanmu sampai datang kematian kepadamu.”
Abah lalu melanjutkan dengan pesan penting: jangan sampai kita termasuk orang yang memusuhi pesantren dan para ulama. Beliau menuturkan kisah sahabat Nabi ﷺ, Abu Qilabah. Suatu hari, Abu Qilabah berjalan di negeri Syam dan mendengar seseorang berteriak, “Celaka aku, aku masuk neraka Jahannam!” Ia pun mencari sumber suara itu hingga menemukan seorang laki-laki yang buta, terpotong tangan dan kakinya, serta tergeletak tersungkur.
Ketika ditanya, orang itu menjawab, “Aku dulu termasuk orang yang ikut menyerbu rumah Sayyidina Utsman. Saat aku masuk, istrinya muncul, lalu aku tampar. Sayyidina Utsman pun marah dan berkata, ‘Semoga Allah mencabut tanganmu, kakimu, matamu, dan memasukkanmu ke neraka Jahannam.’ Tak lama, semua yang dikatakan Utsman benar-benar terjadi padaku.” Mendengar itu, Abu Qilabah seperti ingin menginjaknya karena marah, tapi ia berkata, “Semoga Allah menjauhkanmu dari siksa-Nya.” Abah menjelaskan, kisah ini menjadi peringatan agar kita berhati-hati. Jangan sampai melukai para ulama atau menjelekkan pesantren, karena Allah tidak ridha.
“Barang siapa yang berani menyakiti kekasih-Ku, maka Aku telah menabuh genderang perang dengannya,” sabda Allah dalam hadits Qudsi.
Abah juga mengingatkan pesan Rasulullah ﷺ kepada Sayyidina Mu’adz bin Jabal:
“Hati-hatilah terhadap doa orang yang terdzalimi, karena doa itu tidak ada penghalangnya antara dia dengan Allah.”
Dalam bagian akhir tausiyah, Abah membahas pentingnya dzikir dan menjaga lisan di tengah kehidupan modern yang serba cepat. Beliau mengutip hadits dari Abdullah bin Busr al-Bazi, ketika seorang sahabat datang kepada Rasul dan berkata, “Wahai Rasul, amal-amal dalam Islam begitu banyak. Ajarkan aku satu amalan yang bisa aku lakukan terus-menerus.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Usahakan bibirmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah.”
Abah menegaskan, “Ahli dzikir itu pasti istimewa. Di pesantren Ar-Risalah, dibiasakan dzikir pagi dan petang (dzikir shabah wa masa’), karena santri itu mudah menjadi sholeh dan mudah mendapat futuh (pembukaan hati) kalau lisannya terbiasa berdzikir.”
Beliau menutup tausiyah dengan kisah Abu Sa’id al-Khudri, sahabat Nabi yang pernah membaca surat Al-Fatihah tujuh kali untuk menyembuhkan seseorang yang digigit kalajengking. Karena lisannya terjaga dengan dzikir, bacaannya menjadi sebab kesembuhan. Abah juga mengisahkan Sayyidina Umar bin Khattab, yang pernah mengirim imamahnya (sorban) kepada Raja Romawi yang sakit kepala. Ketika dibuka, di dalam imamah itu terdapat tulisan Bismillahirrahmanirrahim, dan seketika itu sang raja sembuh.
Semua itu menjadi bukti bahwa keberkahan datang dari dzikir dan hati yang bersih. "Rahasia itu pada tangan yang menuliskan, bukan pada huruf yang ditulis, rahasia itu ada pada bibir yang mengucapkan, bukan kalimat-kalimat yang dibacakan". Untuk itu, hendaklah kita terus menghidupkan dzikir, menjaga adab kepada ulama, dan tetap yakin bahwa Allah-lah penjaga agama dan pondok pesantren.***