Membentuk Generasi Cerdas, Sholeh, Muslih Waj'alna Lil Muttaqina Imama

 Tasyakur Kelulusan PDF Ulya dan PDF Wustha Pondok Pesantren Ar-Risalah Tahun 2026

Tasyakur Kelulusan PDF Ulya dan PDF Wustha Pondok Pesantren Ar-Risalah Tahun 2026

Bandung Barat - Ar-Risalah Cisarua

 


Pondok Pesantren Ar-Risalah menyelenggarakan acara Tasyakur Kelulusan bagi santri Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya dan Wustha sebagai bentuk rasa syukur atas selesainya proses pendidikan. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Ahad, 26 April 2026 bertepatan dengan 8 Dzulqa’dah 1447 H, bertempat di Kp. Sukamaju 01/02, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

 


Acara ini berlangsung dengan penuh khidmat dan dihadiri oleh para asatidz, wali santri, serta pejabat pemerintah. Dalam sambutan perpisahan yang disampaikan langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Risalah, Dr. KH. Mohammad Rofiqul A'la, Lc., MA., diawali dengan ucapan terima kasih dan doa untuk para pejabat yang hadir. Hal ini selaras dengan perkataan Fudhail bin Iyadh رحمه الله:


لَوْ كَانَ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ لَجَعَلْتُهَا فِي السُّلْطَانِ


“Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya aku tujukan untuk pemimpin.”

 


Hal ini karena kebaikan seorang pemimpin akan berdampak luas kepada seluruh umat, sehingga mendoakan mereka termasuk amal besar. Rasulullah ﷺ pun memberi contoh melalui doanya:


اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ


“Ya Allah, siapa saja yang mengurus urusan umatku lalu ia bersikap lembut kepada mereka, maka lembutlah Engkau kepadanya. Dan siapa yang mengurus urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah dia.” (HR. Sahih Muslim)

 


Selanjutnya, ucapan selamat disampaikan kepada para wali santri yang telah memberikan hadiah terbaik bagi putra-putrinya, yaitu agama, ilmu, dan akhlak:


لَيْسَ أَعْظَمَ هَدِيَّةٍ مِنْ وَالِدٍ لِوَلَدِهِ مِنْ دِينٍ يُقِيمُهُ، وَعِلْمٍ يَهْدِيهِ، وَخُلُقٍ يُجَمِّلُهُ


“Tidak ada hadiah terbesar dari orang tua kepada anaknya selain agama yang menegakkannya, ilmu yang membimbingnya, dan akhlak yang memperindahnya.”


Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:


مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ مِنْ نِحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ


“Tidak ada pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada adab (pendidikan) yang baik.” (HR. Sunan at-Tirmidzi)

 


Anak-anak yang dibekali ilmu agama merupakan aset terbaik dunia dan akhirat. Sebagaimana dalam hadits:


مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا، وَمَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِي أَهْلِهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا


“Barangsiapa yang membekali seorang mujahid di jalan Allah, maka ia (seakan) ikut berperang. Dan barangsiapa yang menjaga keluarga yang ditinggalkannya dengan baik, maka ia (seakan) ikut berperang.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)

 


Orang tua yang membekali anak dengan ilmu agama diibaratkan seperti membekali pejuang di jalan Allah. Bahkan disebutkan:


مَنْ أَعَانَ عَلَى الْخَيْرِ شَارَكَ فِي أَجْرِهِ، وَمَنْ هَيَّأَ سَبِيلَهُ بَلَغَ مَنْزِلَتَهُ


“Siapa yang membantu dalam kebaikan, ia ikut dalam pahalanya; dan siapa yang menyiapkan jalannya, ia akan sampai pada derajatnya.”

 


Dalam kesempatan ini juga disampaikan pesan penting kepada para wisudawan dan wisudawati. Menjadi santri adalah tanda bahwa seseorang dikehendaki kebaikan oleh Allah SWT, sehingga seharusnya disyukuri dengan penuh kebahagiaan, bukan dianggap sebagai keterpaksaan.

 


Para lulusan diingatkan agar menjadi murid sejati bagi pesantren, bukan sekadar “tamu”. Murid sejati adalah mereka yang belajar dengan ikhlas karena Allah, mengamalkan ilmu, senantiasa mendoakan guru, serta menjaga hubungan batin dengan para asatidz. Sebaliknya, “tamu” adalah mereka yang hanya mengejar ijazah, mengoleksi kitab tanpa mengamalkan, sering absen dari pengajian, serta lalai dalam mendoakan guru.

 


Murid sejati juga adalah mereka yang siap berkhidmah untuk pesantren, menyampaikan dawuh guru, serta meneladani akhlak dan perilaku para gurunya. Hubungan ini tidak berhenti saat kelulusan. Para santri diharapkan tetap menjaga silaturahmi, bahkan ketika suatu saat kembali, meskipun yang ditemui hanyalah pusara para guru.

 


Selain itu, para lulusan diingatkan agar selalu membawa dan menyampaikan kenangan baik tentang pesantren. Hal ini sejalan dengan doa yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i:


اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَيْبَ مُعَلِّمِي، وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ عَنِّي


“Ya Allah, tutuplah aib guruku, dan jangan Engkau hilangkan keberkahan ilmunya dariku.”


Karena sejatinya ilmu bukan hanya sekadar pengetahuan, tetapi mengandung keberkahan yang dijaga melalui adab dan hubungan dengan guru.


Hari kelulusan ini juga menjadi momentum muhasabah, karena setiap akhir perjalanan akan menampakkan kekurangan:


إِذَا تَمَّ الأَمْرُ بَدَا نَقْصُهُ


“Apabila suatu perkara telah sempurna, maka akan tampak kekurangannya.”

 


Saat kembali ke masyarakat, para lulusan akan menghadapi ujian yang sesungguhnya. Sebagaimana ungkapan:


مَيْدَانُ النَّاسِ مَدْرَسَةُ الْحَيَاةِ، فِيهِ يُمْتَحَنُ الصِّدْقُ، وَيَنْضُجُ الْعِلْمُ، وَتَكْتَمِلُ الْحِكْمَةُ


“Medan manusia adalah sekolah kehidupan; di dalamnya kejujuran diuji, ilmu menjadi matang, dan hikmah menjadi sempurna.”

 


Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan para lulusan Pondok Pesantren Ar-Risalah mampu menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta siap mengamalkan dan menyebarkan ilmu di tengah masyarakat.


Share :


Jazakalloh Khoir Telah Menjadi Bagian Jaringan Penyebar Media ARRISALAH.ID