Mengukur Diri di Hadapan Allah: Ciri Ahli Akhirat dan 4 Perkara Aneh di Dunia
Hadis Nabi tentang 4 Perkara Aneh di Dunia
Terdapat sebuah riwayat hadis dari Sayyidina Abu Hurairah r.a yang ditulis oleh Imam As-Suyuthi dalam kitab Al-Jami' Ash-Shaghir. Meskipun jalur sanadnya dinilai dhaif (lemah) oleh sebagian ulama, secara kandungan makna hadis ini sangatlah benar dan nyata terjadi.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
الْغُرَبَاءُ فِي الدُّنْيَا أَرْبَعَةٌ: قُرْآنٌ فِي جَوْفِ ظَالِمٍ، وَمَسْجِدٌ فِي نَادِي قَوْمٍ لَا يُصَلَّى فِيهِ، وَمُصْحَفٌ فِي بَيْتٍ لَا يُقْرَأُ فِيهِ، وَرَجُلٌ صَالِحٌ مَعَ قَوْمِ سُوءٍ
Artinya:
(Perkara-perkara yang aneh atau asing di dunia ini ada empat perkara).
Kata "aneh" di sini merujuk pada adanya penempatan yang keliru atau perilaku manusia yang salah dalam menyikapi empat hal berikut:
1. Al-Qur'an di Dalam Diri Orang yang Zalim
Keanehan pertama adalah ketika Allah SWT menganugerahkan Al-Qur'an—baik berupa hafalan satu juz, dua juz, hingga menjadi seorang hafidz, qori’, bahkan ahli tafsir—namun akhlak dan perilakunya justru jauh dari nilai-nilai qur’an.
Bagaimana interaksi sosialnya, bagaimana cara dia berbisnis, dan bagaimana dia memperlakukan keluarganya ternyata bertolak belakang dengan apa yang dijunjung oleh Al-Qur'an. Sayyidina Abdullah bin Mas'ud r.a. pernah menegaskan bahwa para sahabat nabi dahulu membaca Al-Qur'an untuk diamalkan, bukan sekedar agar dipanggil sebagai seorang pembaca Al-Qur'an (qari).
Bahkan dalam sejarah ulama nusantara, seperti KH. Arwani Kudus, adab terhadap Al-Qur'an sangatlah dijaga. Dulu, para santri dilarang duduk bersila sambil memegang Al-Qur'an, mereka harus duduk bersimpuh (iftirasy atau tawarruk) sebagai bentuk penghormatan. Para guru mengaji di kampung pun menggunakan penunjuk (tuding) agar tangan anak-anak yang belum tentu suci tidak menyentuh mushaf secara langsung. Sungguh ironis jika hari ini banyak penghafal Al-Qur'an yang menyepelekan adab, bahkan meletakkan Al-Qur'an sejajar dengan kaki atau barang-barang yang kurang pantas.
2. Masjid yang Indah Namun Sepi dari Jemaah
Perkara aneh kedua adalah berdirinya sebuah masjid yang megah, arsitekturnya indah, kubahnya berlapis emas, karpetnya dipesan langsung dari Turki, namun sepi dari orang-orang yang mendirikan shalat di dalamnya.
Ketika azan berkumandang, masyarakat di sekitarnya sibuk dengan aktivitas masing-masing dan enggan melangkah ke masjid. Sungguh aneh jika kita mendapati masjid di negeri-negeri muslim, justru mayoritas jama’ah setianya adalah para pendatang atau pekerja asing, sementara penduduk lokalnya absen.
Ingatlah, hubungan seorang mukmin dengan masjidnya laksana ikan dengan air. Ikan hanya bisa hidup jika berada di dalam air. Begitu pula hati, iman, dan Islam seorang mukmin, ia akan terus hidup dan terjaga jika ia selalu mengaitkan hatinya dengan masjid setiap kali waktu shalat tiba.
Mari kita renungkan kisah tokoh tabi’in, Said bin Al-Musayyib r.a. Beliau berkata: "Selama 40 tahun, aku tidak pernah tertinggal shalat berjamaah di masjid. Dan selama 30 tahun, tidaklah muazin mengumandangkan azan, kecuali aku sudah berada di dalam masjid." Beliau adalah contoh nyata bagaimana seorang mukmin merindukan masjid dan shalat berikutnya bahkan semenjak shalat sebelumnya baru saja selesai.
3. Mushaf Al-Qur'an yang Hanya Menjadi Pajangan
Keanehan ketiga adalah adanya mushaf Al-Qur'an di dalam sebuah rumah, namun tidak pernah dibaca dan dibuka. Al-Qur'an tersebut hanya dibeli untuk dijadikan pajangan, menumpuk berdebu di lemari, atau sekadar mahar hiasan dalam pernikahan yang setelah akad selesai, tidak pernah lagi disentuh sampai bertahun-tahun kemudian.
Imam Ahmad bin Hanbal bahkan memakruhkan seseorang yang menghafal atau memiliki Al-Qur'an namun melewatkan waktu 40 hari tanpa mengkhatamkannya atau membacanya sama sekali. Kenyataan sosial hari ini menunjukkan banyak rumah Muslim yang memiliki Al-Qur'an, namun lembarannya yang sering dibaca hanyalah surah Yasin, sementara surah-surah lainnya seperti Ali 'Imran, An-Nisa, dan lainnya terlupakan dan tidak pernah diselami maknanya.
4. Orang Saleh yang Hidup di Lingkungan yang Buruk
Keanehan keempat adalah adanya orang saleh, orang yang taat ibadah, menutup aurat dengan benar, namun dia hidup dan tinggal di tengah-tengah komunitas masyarakat yang buruk perilakunya. Keberadaannya sering kali dianggap asing, aneh, bahkan dikucilkan karena dia memilih jalan yang berbeda dari mayoritas lingkungannya yang gemar bermaksiat.
Ketika kita berada di lingkungan yang kurang baik, tantangan terbesarnya adalah menjaga hati agar tidak ikut terwarnai, melainkan kitalah yang harus memberi warna kebaikan. Di zaman modern ini, tantangan moral anak-anak kita begitu luar biasa, terutama dengan paparan teknologi dan media sosial (seperti TikTok atau Instagram) yang menurunkan daya analisis dan konsentrasi mereka.
Oleh karena itu, keberadaan lingkungan yang saleh seperti di pondok pesantren adalah benteng pertahanan yang sangat besar untuk menjaga kecerdasan intelektual, moral, dan spiritual anak-anak kita agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang saleh tanpa terkontaminasi oleh buruknya pergaulan luar.***