Bandung Barat – Ar-Risalah Cisarua
Dr KH Mohamad Rofiqul A’la Lc MA atau biasa dikenal dengan Kyai Rofiq mengungkapkan kisah bahwa beliau pernah bertemu dengan Wali di Madinah.
Hal tersebut beliau sampaikan pada momen Pengajian Keluarga Santri (Ngajagi) pada hari Ahad (13/11) bertempat di Masjid Al-Habibul Musthofa Pesantren Ar-Risalah Cisarua.
Kyai Rofiq mengisahkan bahwa pada saat beliau mendapat kesempatan menjalankan ibadah Umroh, beliau berdoa di Raudhah Masjid Nabawi Madinah sebelum meneruskan perjalanan ke Mekkah Al-Mukarromah.
Kyai Rofiq berdoa saat para jama’ah lainnya telah kembali ke hotel.
“Ya Allah, pertemukan saya dengan seorang wali-Mu yang ada di Madinah” Do’a beliau.
Setelah itu, Kyai Rofiq melanjutkan berziarah menuju komplek pemakaman Baqi. Komplek Pemakaman Baqi tidak jauh dari Masjid Nabawi. Disaat keluar dari Baqi, Kyai Rofiq bertemu dengan Habib Zain bin Ibrahim bin Smith.
“Setelah ziarah di Baqi, tiba-tiba saya bertemu dengan Habib Zain, tak menunggu lama saya langsung menemuinya untuk bersalaman dengan beliau,” Ungkap Kyai Rofiq.
Habib Zain bin Ibrahim bin Smith merupakan ulama besar yang sangat terkenal di kalangan para santri. Kyai Rofiq menghampiri beliau untuk bersalaman, kemudian Habib Zain bin Ibrahim bin Smith pun bertanya, “Anta minas-syam (engkau dari Syam)?” Kyai Rofiq menjawab, “Na’am syeikh (iya syeikh).”
Kemudian Habib Zain bertanya kembali, “Anta min tilmid Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthi (apakah engkau murid dari Syekh Buthi)?” Dan Kyai Rofiq pun menjawab, “Na’am syeikh (iya syeikh).”
Setelah itu, Habib Zain menanyakan lagi yang dalam Bahasa Indonesia, “Apakah Anda akan menuju Mekkah?, Mohon doakan saya.”
Kyai Rofiq mengisahkan bahwa pada saat bertemu Habib Zain bin Ibrahim bin Smith beliau nyaris melupakan doa beliau di Raudhah agar dipertemukan dengan seorang wali Madinah dengan ijin Allah SWT.
Beberapa saat kemudian beliau baru menyadari bahwa Allah SWT telah mengabulkan doa beliau yakni bertemu dengan seorang ulama besar yakni Habib Zein bin Ibrahim bin Smith.
Kyai Rofiq juga menambahkan bahwa seorang ulama besar saja meminta didoakan, dan ini jangan dipahami yang dimintai do'a lebih mulia dari yang meminta doa, akan tetapi mengajarkan tentang pentingnya meminta do'a kepada orang lain, dan menunjukkan sifat ketawadlu'an.
Hal ini pun pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Rasulullah Saw pernah meminta didoakan oleh sahabat beliau yakni Umar bin Khattab pada saat Umar bin Khattab izin berangkat Umrah, begitu juga Rasulullah Saw juga memerintahkan sahabat Umar bin Khatab agar meminta do'a pada salah seorang tabiin yang bernama Uwais al-Qarni. Maka, jangan ragu untuk meminta didoakan orang lain.
Mengenal Istilah Wali Allah Swt
Allah SWT telah menjelaskan tentang para wali-Nya dalam Al-Qur’an. Salah satunya yakni dalam surah Yunus ayat 62-64.
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64) }
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar."
Al-Hafiz Ibnu Katsir menjelaskan bahwa para wali Allah adalah setiap mereka yang beriman dan bertakwa sebagaimana telah dijelaskan Allah tentang mereka. Maka setiap orang yang bertakwa kepada Allah, dia adalah wali-Nya.
"Sesungguhnya tidak ada kebimbangan atas mereka, yaitu dalam menghadapi hal-ihwal kiamat," ungkapnya.
Dan tidak pula mereka bersedih hati terhadap apa yang me-reka tinggalkan di dunia. (Tafsir Ibnu Katsir:II/278).
Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, asal makna al-wilayah (kewalian) adalah dekat. Asal makna al-adawab (permusuhan) adalah jauh.
Maka para wali Allah adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan amal-amal yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya.
"Musuh-musuh Allah adalah orang-orang yang dijauhkan dari-Nya dengan sebab amal-amal perbuatan mereka yang menjadikan mereka terusir dan terasing dari-Nya." (Ibnu Rajab, Jaami' al-'Ulum wa al-Hikam).
Sementara itu, Ibnu Hajar al-Asqalani mengungkapkan bahwa yang wali Allah yakni orang-orang yang berilmu tentang Allah dan dia terus-menerus berada dalam ketaatan kepada-Nya dengan mengikhlaskan hati dalam ibadahnya" (Ibnu Hajar, Fathul Bari: XI/342).
Biografi singkat Habib Zain bin Ibrahim bin Smith
Nama lengkap beliau yakni Zain bin Ibrahim bin Zain bin Smith Ba'alwi (bahasa Arab: زين بن إبراهيم بن زين بن سميط با علوي). Habib Zain adalah seorang ulama di bidang nahwu dan fikih yang saat ini tinggal di Madinah.
Habib Zain lahir pada tahun 1357 H/1936 di Jakarta, Indonesia di lingkungan keluarga yang religius, orang tuanya dikenal dengan kebaikan dan kesalehan.
Sejak kecil Habib Zain sudah mengenal agama dengan baik, baik ilmu pengetahuan maupun amaliah sehari-hari.
Mengetahui Habib Zain memiliki kelebihan dibanding saudara- saudara lainnya, ayahnya memberikan pendidikan ekstra. Tak hanya ilmu, akhlak pun ditekankan pada diri Habib Zain.
Setelah belajar membaca dan menulis di Madrasah di pulau Jawa, kemudian Habib Zain mempelajari al-Qur'an dan tajwid. Kemudian pada tahun 1371 H/1950 beliau pindah ke Hadhramaut.
Pada usia sekitar 14 tahun. Di kota Tarim, beliau belajar berpindah-pindah dari satu madrasah ke madrasah lainnya di kota tersebut, khususnya di Rubath Tarim.
Habib Zain mempelajari mukhtashar-muktashar ilmu fikih dari Muhammad bin Salim bin Hafidz, dan menghafal shafwatu az-zubad karya Imam Ibnu Ruslan asy-Syafi'i, dan menghafal kitab al-Irsyad karya Syaraf bin al-Maqurri sampai bab jinayat.
Habib Zain mempelajari kitab tersebut dalam bab ilmu waris dan nikah, serta mempelajari sebagian kitab al-Minhaj, dan beberapa kitab yang membahas akhlak dan kelembutan hati, dan sebagian ilmu falak, serta menghafal nazham Hadiyatu ash-Shadiq karya Imam Abdullah bin Husain bin Thahir.
Habib Zain belajar dari Umar bin Alawi al-Kaff ilmu nahwu, ilmu ma'ani, ilmu bayan, dan mempelajari pelengkap al-Ajurrumiyyah, dan menghafal al-Fiyah Ibnu Malik dan memulai dalam syarahnya.
Habib Zain belajar fikih dari al-Muhaqqiq asy-Syaikh Mahfudz bin Salim az-Zabidi, asy-Syaikh al-Faqih Mufti Tarim Salim Sa'id Bukayyir Baghaitsan. Selain itu, beliau mempelajari Malhatu al-I'rab karya al-Hariri dari Salim bin Alawi Khird, dan mempelajari ilmu ushul fiqh dari asy-Syaikh Fadhl bin Muhammad Bafadhal dan asy-Syaikh Abdurrahman bin Hamid as-Siriyyi, belajar kepada keduanya matan al-Waraqat.