Dalam kehidupan rumah tangga, cinta sering kali dianggap sebagai fondasi utama. Namun, benarkah cinta harus menjadi titik awal dalam membangun keluarga? Apakah cinta menjadi syarat utama kebahagiaan dan keutuhan pernikahan?
Cinta Bukan Syarat Pernikahan
Sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk mendahulukan akhlak dan komitmen daripada sekadar perasaan. Banyak pernikahan yang bahagia dan langgeng justru dimulai bukan dari cinta, tapi dari niat baik, tanggung jawab, dan saling menjaga.
Faktanya, cinta bukan syarat sahnya pernikahan, dan juga bukan jaminan kebahagiaan di dalamnya. Ada banyak pasangan yang awalnya penuh cinta, namun kandas di tengah jalan. Sebaliknya, ada pula pasangan yang membangun rumah tangga tanpa pacaran, namun tetap langgeng hingga akhir hayat.
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa 80% pernikahan yang dibangun tanpa pacaran justru lebih awet dan tahan lama.
Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah: Pilar Cinta dalam Islam
Dalam Islam, cinta bukan satu-satunya elemen penting dalam pernikahan. Justru yang lebih utama adalah menjaga tiga pilar utama: sakinah, mawaddah, dan rahmah. Jika ketiganya dijaga, maka cinta akan datang dengan sendirinya.
1. Makna Sakinah
Sakinah berarti ketenangan. Ini muncul ketika pasangan mampu menciptakan rasa aman satu sama lain, tidak merasa terancam, dan saling melindungi. Ketika pasangan merasa nyaman dan tenang, maka benih cinta akan tumbuh dengan alami.
2. Makna Mawaddah
Mawaddah adalah bentuk cinta yang ditunjukkan melalui perhatian dan kasih sayang. Mawaddah akan hadir ketika mereka merasa diprioritaskan, dibela, dan diperhatikan.
Bagi perempuan, mawaddah cukup dengan terpenuhi kebutuhan hidupnya. Namun berbeda halnya dengan laki-laki, sehebat-hebatnya laki-laki itu ketika ia ada dalam kondisi sulit (sebuah keluarga), namun ia tetap dihargai, maka rumah tangga akan aman. Oleh karena itu, penting untuk memahami cara masing-masing pihak mengekspresikan dan menerima cinta.
3. Makna Rahmah
Rahmah berarti kasih sayang yang aktif, termasuk memberikan maaf, memberi kesempatan ketika pasangan melakukan kesalahan, dan tidak mudah menghukum atau mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu. Rahmah inilah yang menjaga pernikahan tetap hangat meski cinta tidak selalu terasa.
Cinta Itu Ditanam, Bukan Diharapkan
Cinta sejati tidak muncul dari bibir, melainkan tumbuh dari hati. Dalam bahasa Arab, cinta (حب - hubb) memiliki akar kata yang sama dengan biji (حب - habb), yang berarti sesuatu yang harus ditanam. Ini menunjukkan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus dipelihara, dirawat, dan dijaga terus-menerus agar tumbuh dan berbunga.
Cinta lahir dari hati, namun disalurkan melalui kata-kata, sikap, dan perlakuan sehari-hari.
Cinta Tidak Selalu Menjamin Hubungan Ideal
Sejarah menunjukkan bahwa bahkan manusia-manusia pilihan Allah pun mengalami ujian dalam pernikahan:
1. Nabi Adam dan Siti Hawa: Terpisah selama 40 tahun.
2. Nabi Luth dan Nabi Nuh: Istri mereka tidak beriman dan akhirnya kafir.
3. Abu Lahab dan istrinya: Sebaliknya—pasangan dalam keburukan.
Ini menjadi pengingat bahwa cinta saja tidak cukup. Komitmen, nilai keimanan, dan kesabaran jauh lebih penting dalam membangun rumah tangga.
Jangan Mencari Pasangan yang Ideal
Dalam perjalanan mencari pasangan hidup, jangan terlalu fokus mencari pasangan yang ideal. Fokuslah menjadi pribadi yang siap, karena dalam proses pernikahan, justru kedewasaan, tanggung jawab, dan usaha untuk saling memahami yang menjadikan hubungan itu kuat dan bertahan lama.
"Jangan mencari pasangan yang ideal, tapi jadikanlah diri kita menjadi pasangan yang ideal." Abah Yai Rofiq
Note : Disarikan dari Ngaji Siang "Tafsir Jalalain", bersama santri Ar-Risalah