Bandung Barat- Ar-Risalah Cisarua
Satu hari setelah kedatangan Syaikh Muhammad Rajab Dieb tepatnya pada hari Kamis, 28 Oktober 2024, Ar-Risalah lagi-lagi kedatangan tamu mulia yaitu KH. Muhammad Ahdal Abdurrahim bersama keponakan beliau Gus Alawi Ubaidillah dalam acara IKAMUS (Ikatan Alumni MUS) Bandung Raya.
Acara tersebut dimulai dengan sambutan yang disampaikan oleh guru kita bersama KH. Dr. Mohammad Rafiqul A’la, Lc., MA yang lebih akrab kami sapa dengan pangggilan Abah. kemudian dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh Kiai Ahdal. Dalam sambutan yang terbilang singkat itu Abah mengatakan bahwa hadirnya Kiai Ahdal di Pondok Pesantren Ar-Risalah ini adalah doa yang sudah lama beliau panjatkan, karena Abah sendiri tidak berani untuk sengaja mengudang guru-gurunya karena bentuk adab beliau, bahkan untuk memajang foto-fotonya saja Abah tidak berani karena beliau khawatir masih belum bisa menjadi apa yang diharapkan guru-gurunya.
Abah juga menyampaikan bahwa Pondok Pesantren Ar-Risalah bisa sampai seperti ini karena berkah dari doanya para guru. Abah bercerita, bahwa dulu ketika beliau sowan kepada Kiai Abdurrahim, tiba-tiba Kiai Abdul Jalil keluar kemudian beliau diperintah salaman oleh kakaknya sambil berkata “Kalo santri sowan ditemui oleh Kiai Abdul Jalil, biasanya mondoknya lama”. Tapi hati abah ingkar pada saat itu. Padahal Kiai Abdurrahim juga mengatakan hal yang sama “Kamu nanti mondok di sini lama dan kamu akan ngajar di pondok putri”, akan tetapi pada saat itu Abah masih tetap ingkar dan benar saja dengan kehendak Allah Abah menimba ilmu di Pondok Pesantren Sarang-Rembang hingga 11 tahun.
Setelah sambutan tersebut, Kiai Ahdal mulai menyampaikan tausiyahnya dengan membacakan maqalah yang didawuhkan oleh Sayyidina Hasan Al-Bashri : “Perbanyaklah ikatan persaudaran kalian sesama muslim dan mukmin karena kelak di hari kiamat setiap muslim yang saling mengenal bisa memberi syafa’at kepada mukmin yang lain”.
Seperti yang tadi sudah disampaikan oleh Abah bahwa adanya Pondok Pesantren ini tidak lain tidak bukan karena keberkahan doa-doa para guru. Pondok Pesantren Ar-Risalah ini adalah sebuah miniatur Pondok Pesantren MUS karena kebetulan Kiai, bu nyai serta mayoritas pengajar di sini sama-sama alumni pondok MUS. Dan beliau berharap semoga niat para guru-guru dalam menyebarkan ilmu bisa terlihat dan berguna di tengah-tengah masyarakat.
Selanjutnya, beliau memberikan nasihat kepada kita semua khususnya para santri untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu agama, karena apa yang kita dapat dari pesantren ini merupakan bekal kita esok ketika sudah kembali ke daerahnya masing-masing, menjadi orang berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Dan ini merupakan suatu amalan yang tidak terputus pahalanya sebagaimana yang tertera dalam hadits masyhur “Ketika manusia telah wafat maka amalnya akan terputus kecuali tiga orang yang akan terus berlangsung dan selalu mendapat pahala jariyyah. Yang pertama sadaqah jariyyah, seperti orang yang menyumbangkan hartanya untuk masjid dan masjid tersebut digunakan orang-orang untuk beribadah. Kedua adalah orang yang meninggalkan ilmu yang bermanfaat, pahala orang yang mengajarkan ilmu tidak akan terputus dan terus mengalir hingga hari kiamat. Yang ketiga adalah meninggalkan anak shalih yang mau mendoakan orang tuanya.
Dan beliau teringat dawuh gurunya yaitu Kiai Ma’ruf, beliau berkata “Jika ingin memiliki anak shalih atau shalihah maka mau tidak mau harus memasukkannya ke pondok, supaya tahu bagaimana caranya menjadi anak yang baik, bagaimana cara mendoakan kedua orang tua.
Beliau juga menyampaikan bahwa ada satu kunci untuk keberhasilan dalam mencari ilmu yaitu wujud ketakwaan kepada Allah Swt, seperti yang disebutkan dalam firman Allah “wattakullah, wayu’allikumullah” Bertakwalah kamu maka Allah akan memberi ilmu kepadamu. Dan ini penting, Kita harus tahu bahwa yang kita pelajari ini adalah ilmunya Allah Swt dan yang memberi ilmu juga Allah Swt.
Lalu bagaimana cara kita tunduk kepada Allah yang memiliki ilmu dan yang memberi ilmu tersebut? Beliau mengibaratkannya seperti orang yang punya sumur, lantas ia berkeinginan agar warga sekitar bisa mengambil dari air tesebut dengan syarat harus memakai timba, orang cerdas pasti ia akan taat pada peraturan tersebut, kalau tidak cerdas maka sebaliknya, bisa saja ia membeli mesin air supaya dapat mengambil air lebih cepat dan lebih banyak. Ketika orang memiliki rasa takut kepada Allah, ia akan yakin bahwa Allah akan mempermudah ia dalam mendapatkan ilmu Allah dan ia akan selalu taat kepada peraturan-peraturan Allah.
Kita patut bersyukur di zaman sekarang ini kita masih diberi hidayah mau mendalami ilmu agama. Apa yang kita tempuh saat ini adalah jalan yang terbaik yang dipilih Allah untuk kita. Dan ini merupakan tanda-tanda kita dikehendaki baik oleh Allah.
Ilmu itu bisa mengangkat derajat seseorang. Dalam pembahasan itu beliau menceritakan Kakek beliau, Kiai Dahlan. Beliau adalah anak dari orang biasa, kemudian mondok di Sarang menjadi seorang yang alim dan akhirnya diambil menantu oleh Kiai Syu’aib dan anak Kiai Zubair dan cucu Kiai Maemon Zubair yang sama-sama terkenal dengan ke’alimannya. Tingginya derajat beliau ini tidak lain adalah karena ilmu yang dimilikinya. Dan kebodohan itu dapat menjatuhkan martabat seseorang yang mulia. Nasib hidup kita itu tergantung kerja keras kita, bukan hanya mengandalkan nasab saja.
Sebelum tausiyahnya beliau akhiri, beliau memberikan nasihat tentang apa saja yang menjadi penopang kesuksesan:
1. ’alima (memiliki ilmu)
Baik dunia maupun akhirat, dikatakan “Barang siapa yang ingin sukses dalam urusan dunia maka ia harus memiliki ilmu, begitu juga ketika ia ingin sukses dalam urusan akhirat maka harus memiliki ilmu”.
2. ‘amila (mengamalkan ilmu)
Kita berusaha untuk mempraktikan ilmu kita dalam segala aktifitas, karena dalam agama ini apapun yang kita kerjakan pasti ada tuntunannya, bagaimana cara kita shalat, puasa, zakat, bermuamalah, bermasyarakat, dsb.
3. ‘allama (mengajar)
Karena ketika ilmu diajarkan kepada orang lain maka akan menjadi berkah. Ada satu riwayat hadits mengatakan “Barang siapa yang mau mengamalkan ilmu yang ia punya, maka Allah akan memberikan ilmu-ilmu yang belum diketahuinya karena keberkahan dalam menyampaikan ilmu”.
Dalam akhir tausiahnya beliau mengijazahi bacaan Ratibul Haddad kepada jamaah yang hadir, juga mengijazahkan kitab-kitab karangan Al-Habib Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Haddad yang lainnya. Meskipun Al-Habib Abdullah bin Alawi, ulama yang berasal dari Tarem, Hadramaut, Yaman ini buta. tapi beliau diberi keistimewaan oleh Allah, ilmunya bisa diterima oleh seluruh umat islam di seluruh penjuru dunia. Banyak negara-negara yang mengamalkan wiridnya bahkan kitab-kitab karangan beliau sampai diterjemahkan ke dalam lima bahasa.
Kiai Ahdal juga bercerita bahwa beliau diperintah oleh gurunya di Madinah, Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith untuk mengamalkan dan menyebarkan wirid-wirid milik habaib khususnya Rathibul Haddad. Sebab, hidup di zaman sekarang ini banyak orang yang tidak sejalan dengan pemikiran kita, dalam hidup bermasyarkat tidak lepas dari orang-orang yang hasud dan ini sudah menjadi sunnnatulah. Oleh karena itu, diperlukan adanya benteng berupa bacaan-bacaan wirid ataupun dzikir.***