Bandung Barat - Ar-Risalah Cisarua
Ngajagi, Ahad 9 November 2025.
﴿إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيْعََا بَصِيْرََا﴾. [ الإنسان: 2]
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat". [Al-Insan: 2]
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ﴾. [ سورة الأنبياء: 35]
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kamu akan dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiyā’: 35)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاه".
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan atau rasa gelisah, sampai duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya”. (HR. Al-Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573)
عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَة). رواه الترمذي.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Ujian (cobaan) senantiasa menimpa seorang mukmin, baik pada dirinya, anaknya, maupun hartanya, hingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa sedikit pun.” (HR. At-Tirmidzi)
Kisah Hikmah:
يُرْوَى أَنَّ رَجُلًا مَعْرُوفًا بِتَقْوَاهُ، كَانَ كُلَّمَا أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ قَالَ: "خَيْرًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ". وَكَانَ لَهُ صَدِيقٌ يَتَعَجَّبُ مِنْ أَمْرِهِ، فَقَالَ لَهُ يَوْمًا: "كَيْفَ تَقُولُ خَيْرًا فِي كُلِّ مَا يُصِيبُكَ؟ أَفِي الْمِصِيبَةِ خَيْرٌ؟".
فَقَالَ الرَّجُلُ التَّقِيُّ: "كُلُّ مَا يَقْضِيهِ اللَّهُ لَنَا فِيهِ خَيْرٌ، وَلَوْ ظَهَرَ فِي الْبَدْءِ شَرًّا."
وَفِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ، خَرَجَ الرَّجُلُ مَعَ صَدِيقِهِ إِلَى السَّفَرِ، فَتَعَرَّضَا لِلصٍّوصٍ، فَأَخَذُوا مَا مَعَهُمَا مِنْ مَالٍ وَمَتَاعٍ، وَقَطَعُوا إِصْبَعَ الرَّجُلِ التَّقِيِّ. فَصَاحَ صَدِيقُهُ: "أَرَأَيْتَ؟ هَلْ فِي هَذَا خَيْرٌ؟" فَأَجَابَهُ بِهُدُوءٍ: "خَيْرًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ."
وَبَعْدَ أَيَّامٍ قَلِيلَةٍ، قُبِضَ عَلَى جَمَاعَةٍ مِنَ اللُّصُوصِ، وَعُرِفَ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّمُونَ أَسْرَاهُمْ قُرْبَانًا لِوَثَنٍ يَعْبُدُونَهُ، وَلَكِنَّهُمْ لَمْ يَقْرِّبُوا الرَّجُلَ التَّقِيَّ لِأَنَّهُ كَانَ أَعْرَجَ بَعْدَ قَطْعِ إِصْبَعِهِ،
فَقَالُوا: "هَذَا لَا يَصْلُحُ لِلقُرْبَانِ." فَنَجَا بِتَقْدِيرِ اللَّهِ، وَتَذَكَّرَ قَوْلَهُ: "خَيْرًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ." فَلَمَّا رَآهُ صَدِيقُهُ، بَكَى وَقَالَ: "صَدَقْتَ، فِي كُلِّ مَا يَقْضِيهِ اللَّهُ خَيْرٌ، وَلَوْ ظَهَرَ لَنَا شَرًّا.".
Diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang dikenal karena ketakwaannya. Setiap kali ia tertimpa musibah, ia selalu berkata: “Khayran in sya' Allāh (Semoga ini baik, insyaAllah).” Ia memiliki seorang sahabat yang heran dengan sikapnya itu. Suatu hari sahabatnya berkata: “Bagaimana bisa engkau mengatakan ‘ini baik’ dalam setiap musibah yang menimpamu? Adakah kebaikan dalam musibah?” Lelaki saleh itu menjawab: “Segala sesuatu yang Allah tetapkan untuk kita pasti mengandung kebaikan, meskipun pada awalnya tampak sebagai keburukan.”
Pada suatu hari, lelaki saleh itu bepergian bersama sahabatnya. Di perjalanan, mereka dirampok oleh sekelompok penjahat. Para perampok mengambil semua harta mereka dan memotong jari lelaki saleh itu. Sahabatnya pun berteriak: “Lihatlah! Adakah kebaikan dalam hal seperti ini?”. Lelaki itu menjawab dengan tenang: “Khayran in sya’ Allāh.”
Beberapa hari kemudian, para perampok itu tertangkap. Diketahui bahwa mereka biasa mempersembahkan tawanan mereka sebagai kurban kepada berhala yang mereka sembah. Namun, ketika mereka melihat lelaki saleh itu pincang karena jarinya terpotong, mereka berkata: “Orang ini tidak pantas dijadikan persembahan.” Maka lelaki itu selamat dengan takdir Allah. Ia pun teringat perkataannya: “Khayran in shya’ Allāh.” Ketika sahabatnya melihat apa yang terjadi, ia menangis dan berkata: “Engkau benar. Dalam setiap ketetapan Allah pasti ada kebaikan,
meskipun tampak bagi kita sebagai keburukan.”
Makna Hikmah:
1- Dunia ini adalah ujian, jangan pernah berfikir bahwa ada diantara kita yang tidak diuji oleh Allah s.w.t:
"الدُّنْيَا دَارُ ابْتِلَاءٍ، لَيْسَتْ دَارَ جَزَاءٍ، وَمَنْ عَلِمَ ذَلِكَ لَمْ يَفْرَحْ بِرَخَاءٍ، وَلَمْ يَحْزَنْ بِبَلَاءٍ"
“Dunia adalah tempat ujian, bukan tempat balasan (ganjaran). Barang siapa yang menyadari hal itu, maka ia tidak akan terlalu gembira ketika mendapat kelapangan, dan tidak akan terlalu bersedih ketika ditimpa cobaan.”
Kisah seorang yang mengadukan hidupnya yang penuh ujian kepada gurunya, agar dido'akan supaya hilang ujian² hidupnya, lalu gurunya mau mendo'akam dengan syarat agar bisa mencarikan rumah dikampung tersebut yang tak ada ujian. Lalu dia memasuki tiap rumah dan tidak menemukannya.
2- Ujian Allah tidak akan melampui kemampuan hambanya.
3- Ujian itu seharusnya menjadikan kita semakin dengan dengan Allah s.w.t.
Kisah Hikmah:
Kisah as-Syeikh Abdul Qadir al-Jailani yang didatangi wanita mengadukan nasibnya.
“Aku heran pada suamiku, padahal aku ini adalah wanita yang memiliki paras yang sangat cantik. Tapi kenapa suamiku masih melirik wanita lain? kalau anda tidak percaya, akan aku buka hijab wajahku!” Wanita itu mengadukan nasibnya yang sangat tragis. Takdir kecantikan yang dimilikinya ternyata bukanlah kepastian takdir bahagia, karena sang suami ternyata malah menduakannya.
Datanglah wanita itu kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani untuk mendapatkan solusi terbaik dalam hidupnya dan wanita berparas cantik itu sangat yakin dengan tujuannya menghadap Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Tapi apa yang terjadi? Ketika wanita berparas cantik itu mengadukan nasibnya, seketika itu juga malah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pingsan. Wanita cantik itu dan para santri seketika juga kaget, apa yang terjadi dengan diri beliau.
Tidak lama kemudian, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sadar dari pingsannya. “Ya Syekh, kenapa anda tiba-tiba pingsan?” tanya seorang santri kepada guru tercintanya. “Aku kaget dengan pernyataan wanita yang datang kepadaku. Dia berkata, aku adalah wanita yang cantik tapi kenapa suamiku masih melirik wanita lain. Seketika itu aku teringat, kalau wanita cantik saja tidak mau diduakan. Bagaimana dengan Allah Dzat Yang Maha Indah dari segalanya??” Para santri terkaget-kaget dan takjub dengan jawaban Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
Salah satu sifat Allah adalah ghayyur (pencemburu):
عَنْ أبي هريْرَةَ رضي الله تعالى عنه، إنَّ اللَّهَ يَغَارُ، وإنَّ المُؤْمِنَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ المُؤْمِنُ ما حَرَّمَ عليه. متفقٌ عليه.
“Sesungguhnya Allah memiliki sifat ghirah (kecemburuan), dan seorang mukmin pun memiliki ghirah. Kecemburuan Allah ialah ketika seorang mukmin melakukan hal yang diharamkan oleh-Nya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim — muttafaq ‘alaih).
Dan Allah itu paling cemburu kalau kita maksi'at yang artinya kita mengabaikan ada Allah yang melihat, mencintai dan memperhatikan kita?
4- Nikmat Hakiki itu bukan pada sehatnya badan atau banyaknya harta, tapi pada hati yang senantiasa bersyukur, lisan yang berdzikir dan hati yang ridlo dengan qodlo' qodarnya Allah s.w.t.
ليست النعمة في سلامة الجسد أو وفرة المال، ولكن النعمة الحقيقة في قلبٍ شاكرٍ، ولسانٍ ذاكرٍ، ونفسٍ زاضيةٍ بقضاء الله وقدره.
"Nikmat yang sejati bukanlah pada tubuh yang sehat atau harta yang melimpah, tetapi nikmat yang sebenarnya adalah pada hati yang bersyukur, lidah yang senantiasa berzikir, dan jiwa yang ridha terhadap ketentuan dan takdir Allah.”
Kisah Hikmah:
يُحْكَى أَنَّهُ فِي يَوْمٍ مِنَ الأَيَّامِ مَرَّ رَجُلٌ صَالِحٌ عَلَى رَجُلٍ أَعْمَى، مَصَابٍ بِالشَّلَلِ النِّصْفِيِّ، وَكَانَ لَا يَقْدِرُ عَلَى الْحَرَكَةِ، وَقَدْ أَصَابَهُ الْفَقْرُ وَالضِّيقُ.
فَسَمِعَهُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ وَهُوَ يَقُولُ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَى بِهِ كَثِيرًا مِنْ خَلْقِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا.»
فَتَعَجَّبَ الرَّجُلُ الصَّالِحُ وَقَالَ لَهُ: «يَا هَذَا، فِيمَ تَحْمَدُ اللَّهَ وَأَنْتَ أَعْمَى، مَقْعَدٌ، فَقِيرٌ، لَا تَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ؟!»
فَأَجَابَهُ الرَّجُلُ الْمَبْتَلَى بِصَوْتٍ وَاثِقٍ: «يَا أَخِي، جَعَلَ اللَّهُ لِي قَلْبًا يَعْرِفُهُ، وَلِسَانًا يَذْكُرُهُ، وَجِسْمًا لَا يَعْصِيهِ، أَفَلَا يَكْفِينِي ذَلِكَ نِعْمَةً؟!»
فَبَكَى الرَّجُلُ الصَّالِحُ وَقَالَ: «صَدَقْتَ، إِنَّ أَكْبَرَ النِّعَمِ نِعْمَةُ الْإِيمَانِ وَالذِّكْرِ وَالرِّضَا.»
Dikisahkan bahwa pada suatu hari, seorang lelaki saleh lewat di depan seorang lelaki buta yang menderita kelumpuhan separuh badan. Ia tidak mampu bergerak, dan hidupnya pun dalam keadaan sangat miskin dan sempit. Namun, lelaki saleh itu mendengarnya sedang berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari banyak ujian yang menimpa makhluk-Nya, dan telah memberiku keutamaan atas banyak makhluk yang telah Dia ciptakan".
Lelaki saleh itu pun terheran-heran, lalu berkata kepadanya: “Wahai saudaraku, atas dasar apa engkau memuji Allah, padahal engkau buta, lumpuh, dan miskin. Engkau tidak mampu berbuat apa pun?!” Lelaki yang diuji itu menjawab dengan suara penuh keyakinan: “Wahai saudaraku, Allah telah memberiku hati yang mengenal-Nya, lidah yang senantiasa mengingat-Nya, dan tubuh yang tidak digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya, apakah itu bukan nikmat yang cukup bagiku?” Maka lelaki saleh itu menangis dan berkata: “Engkau benar. Sesungguhnya nikmat terbesar adalah nikmat iman, zikir, dan ridha kepada Allah".
5- Ujian Ini bagi mukmin adalah anugerah Allah, untuk menambah pahala dan menghapus dosa mukmin, supaya pantas masuk kedalam surganya. Bahkan seseorang yang meninggalnya atau naza'nya susah saja, itu ada kasih sayang Allah disana, agar sakitnya saat naza', menjadi penggugur dosa-dosanya.
Ini juga agak aneh, dan bagian dari rahmatnya Rasulullah. Nabi brrsqbda bahwa orang yang akhir ucapannya adalah kalimat "Lailaha Illah maka akan masuk surga, tapi Nabi sendiri akhir kalimatnya saat meninggalkan dunia adalah: "Allahumma Ar-Rafiqal A'la". Nabi menjamin orang yang meinggal dihari Jum'at adalah baik, tapi Nabi sendiri meninghal dihari Senin".
"ما من مسلم يموت يوم الجمعة او ليلة الجمعة، إلا وقاه الله فتنة القبر". (رواه أحمد والترمذي).
“Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah (ujian dan siksaan) kubur.”
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
6- Semua yang menimpa hidup kita, harus kita kembalikan kepada Allah s.w.t.
﴿قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ﴾. [ التوبة: 51]
"Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal". [At-Taubah: 51]***