Bandung Barat-
“Saat ini, kita adalah termasuk orang yang menang. Siang-siang, hujan, enaknya ya tidur siang. Tapi kita malah ngaji, alhamdulillah kita masih istiqomah, ini adalah kemenangan yang luar biasa. Jika Allah memperlihatkan pahalanya, pasti banyak sekali, dan pasti kita akan terus ingin ngaji.”
Ayahnya dari guru kami as-Syeikh Ahmad Kaftaru, yaitu as-Syeikh Amin Kaftaru, pertama kali mengajar di Damaskus-Suriah, muridnya cuma satu, buta dan sudah lanjut usia. Tapi kenapa beliau masih istiqomah mengaji? Karena seorang yang mengajar, hakikatnya urusannya adalah dengan Allah, karena dia mengajar untuk mencari ridlonya Allah, bukan ridlonya manusia. Karena itu, kalau sudah Allah, hujan tidak akan menjadi penghalang, dan ngantuk tidak akan menjadi rintangan. Karena berkah keikhlasan tersebut, setelah seorang murid tersebut meninggal, Allah datanglah puluhan ribu santri kemasjid tempat beliau mengaji, bahkan dari berbagai negara dari belahan penjuru dunia.
As-Syaikh Aiman Suwaid yang saat ini jadi rujukan guru Al-Qur’an dunia, guru Qiro’ah Asyrah di Jeddah, pertama kali beliau buka tahfidz Al-Qur’an, dan siap menyimak muridnya setiap selesai sholat 5 waktu. Tapi ternyata selama satu tahun pertama, muridnya cuma satu. Kesabarannya selama satu tahun itu menjadikan beliau saat ini Allah jadikan sebagai rujukan guru Al-Qur’an dunia dan ribuan murid menjadi hafidz Al-Qur'an di tangannya.
“Ngaji juga gitu, urusan kita dengan Allah. Mungkin ibu bukan seorang daiyah (pendakwah), tapi keberkahan ngaji ibu saat ini, bisa turun ke anak-anak ibu.”
Orang tua Imam Ghozali bukan ‘ulama, tapi karena seneng ngaji dan suka dengan 'ulama, maka kemudian Allah jadikan anaknya menjadi ‘ulama yang ilmunya mendunia.
Begitulah muqoddimah yang disampaikan Abah Rofiq pada pengajian rutinan bersama wali santri Madrasah Diniyah Asy-Syamiyah (MAPAGAH) pada Sabtu (26/11) siang bertempat di Lt. Utama Masjid Al Habibul Musthofa yang dimeriahkan oleh grup hadroh pesantren Ar-Risalah "Shoutur Risalah”. Pengajian ini dilaksanakan setiap 1 bulan sekali pada minggu ke-3 dalam rangka ngaji dengan masyarakat sekitar pesantren dan ini merupakan pengajian rutin ke Enam.
Dalam pengajian ini, Abah Rofiq juga menerangkan tentang luasnya cakupan ibadah dan tentang arti dari ibadah terbaik. Abah mengatakan:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).
Saat ini kita sedang ibadah, sholat, dzikir, ngaji, itu ibadah. Tapi ibadah tidak hanya itu, ibadah itu sangat luas, sebagai ujian tentang siapa yang terbaik dari kita:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Berarti ada amal terbaik, ada ibadah terbaik. Lalu apa itu?
Misalnya santri, mereka menghabiskan waktu 24 jam dengan belajar. Suami, menghabiskan waktunya untuk mencari rezeki halal untuk anak dan istrinya, membahagiakan mereka. Itulah amal terbaik, itulah ibadah terbaik.
Lalu, apa ibadah terbaik seorang istri?
Tidak mengomeli suami, menjaga diri, harta dan amanah suami serta mensyukuri apa yang diberikan suaminya, itu ibadah terbaik istri.
Amal terbaik suami-istri adalah mendidik anak-anaknya, mengenalkan mereka kepada Allah s.w.t.
Kita akan tenang kembali kepada Allah jika anak kita sudah sholat. Mereka masih ingat rumah-rumah Allah. Waktu di antara Maghrib dan Isya'nya mereka, digunakan untuk membaca Al-Qur’an, digunakan untuk Allah s.w.t.
Kenapa kita harus menjaga waktu antara Maghrib-Isya?
Karena orang-orang sholeh itu menjadikan waktu tersebut sebagai waktunya untuk Allah. Banyak dari mereka yang menghukum anaknya jika lalai di waktu tersebut.
“Seharusnya nama ibu itu ada di Al-Qur’an, menjadi salah satu nama surah Al-Qur'an, seperti surah "Luqman,” lanjut abah.
Siapa Luqman itu? Apakah ia seorang Nabi ? Atau ia seorang Rasul?. Bukan, Luqman bukan Nabi juga bukan Rasul. Lalu kenapa namanya menjadi nama surah dalam Al-Qur'an? Al-Qur’an mengangkatnya sebagai simbol ayah yang memberi nasihat kepada anaknya, agar setiap anak berbakti kepada kedua orang tuanya dan tidak menyekutukan Allah s.w.t.
Bagaimana mungkin nama kita akan disematkan dalam Al-Qur’an seperti surah Luqman, jika kita tidak menghargai waktu yang singkat itu, dan mengisi waktu Maghrib-Isya dengan sesuatu yang sia-sia, mengabaikan pendidikan agama anak-anak kita.
Ada 3 poin penting yang ingin abah sampaikan pada Mapagah kali ini:
1.Pandanglah anak kita sebagai umatnya Rasulullah s.a.w.
Selama ini, kebanyakan kita memandang anak kita, hanya sebagai anak yang dikandung, disusui, kita sering kali merasa kecewa jika mereka berbuat salah dan kita merasa senang dengan keberhasilan duniawinya. Akan tetapi jika kita memandang anak kita sebagai umatnya Rasulullah s.a.w., maka semua akan berubah menjadi ibadah, karena yang kita jaga adalah umatnya Nabi Muhammad s.a.w. dan tolak ukur bahagia kita adalah keridloan Nabi jika melihat baiknya ibadah dan sosial anak kita.
Kegelisahan kita adalah saat dia jauh dari Allah, seperti nabi Ya’qub. Nabi Ya’qub gelisah saat mau meninggal. Beliau mengumpulkan anak-anaknya. Berwasiat soal tauhid kepada Allah s.w.t., bukan urusan dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengabadikan peristiwa itu dalam firman-Nya di dalam surah Al-Baqarah ayat 133.
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Apakah kalian menyaksikan tatkala Nabi Ya’qub kedatangan tanda kematian, dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apakah yang kalian sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yakni Tuhan yang Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadanya,”.
Nabi Ya’qub berkata kepada anak-anaknya: “Maa ta’buduna min ba’di?”, bukan “Maa ta’kuluna min ba’di?”
“Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku nanti, dan bukan apa yang akan kalian makan setelah aku meninggal nanti?”
2.Menjaga ibadah anak dan keluarga seperti Rasul kepada putra-putrinya.
Rasulullah pernah tinggal di Madinah selama 6 bulan, yang menemani beliau Sayyiduna Anas. Dan Sayyiduna Anas mengatakan: “Pagi hari sebelum ke masjid, Rasul mendatangi rumah Sayyidah Fathimah, mengetuk pintunya membangunkannya sholat Subuh dan itu dilakukan Nabi selama 6 bulan penuh, walaupun Sayyidah Fathimah sudah menikah.”
3.Taat pada suami.
“Saya ingin menceritakan cerita yang dimana kalian bisa menjadi bagian dari ini,” tambah Abah.
Guru saya, as-Syeikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi ketika istrinya wafat beliau memberi sambutan:
“Aku adalah suami yang ridlo dengan istriku. Jika seorang istri meninggal dunia dan suaminya ridlo dengannya, maka baginya surga.” “Kenapa aku ridlo ?
1. Karena ia adalah seorang istri yang taat kepada suaminya, setiap malam sebelum tidur pasti ia meminta izin kepadaku.
2. Setiap malam setelah Isya dan melakukan perkerjaannya, ia bersolek secantik mungkin, dengan menggunakan pakaian yang bagus dan wangi untukku.
3. Dan setiap malam jika aku pergi, ia rela tidak tidur sampai aku datang, duduk di dalam rumah dan membukakan pintu untukku.”
Maka, jadilah wanita seperti itu. Seperti Sayyidah Khodijah, walaupun Nabi menikah dengan istri-istri Nabi yang lain sepeninggalnya, tapi mereka tidak bisa menggeser posisi Sayyidah Khodijah di hati Nabi karena kesolehannya.
Diakhir ngaji, seperti biasa, Abah memberikan 3 pertanyaan seputar isi pengajian kepada para jamaah dan memberikan hadiah kepada para jamaah yang bisa menjawabnya.