بسم الله الرحمن الرحيم
Kitab KuningWednesday, 4 January 2023 21:40 WIB

Dua Jenis Kema’rifatan Hamba Kepada Rabb-Nya


Admin3  

Bandung Barat- Ar-Risalah Cisarua


“Adakalanya seorang ‘arif (mengenal Allah) itu merasa malu ketika meminta kebutuhannya kepada Allah karena merasa cukup dengan yang dikehendaki Allah kepadanya di zaman azali, maka bagaimana mungkin dia tidak malu mengadukan kebutuhannya kepada makhluk?” 

 

Imam Ibnu Atha'illah As-Sakandariy mengawali hikmahnya yang ke-187 dengan kalimat رُبَّمَا  yang memiliki arti terkadang/tidak terus-menerus. Berdasarkan hal tersebut, maka sikap kema’rifatan hamba kepada Allah terbagi menjadi dua kelompok;


Pertama, kelompok hamba yang terkadang tidak meminta (kebutuhannya) kepada Allah. Hal tersebut bisa terjadi karena keyakinannya akan ketentuan-ketentuan Allah yang diberikan untuknya adalah ketentuan yang terbaik, sehingga ia merasa cukup dengan ketentuan tersebut.


Seperti kisah sahabat mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘ulamanya para sahabat, Sayyidina ‘Imron Ibnu Khushoy yang masuk Islam di masa Perang Khaybar. Allah mengujinya dengan penyakit ganas yang membuatnya harus terbaring di tempat tidur selama 30 tahun. Meskipun demikian, selama 30 tahun tersebut, Sayyidina ‘Imron Ibnu Khushoy tidak pernah meminta kepada Allah untuk diberikan kesembuhan atas penyakit ganasnya  tersebut.


Pada suatu hari, datang sahabat lain untuk menjeguk Sayyidina ‘Imron Ibnu Khushoy dan karena rasa prihatinnya yang mendalam, menangislah sahabat tersebut. Heran melihat sahabatnya menangis, Sayyidina ‘Imron Ibnu Khushoy bertanya, “mengapa engkau menangis?”, sahabatnya menjawab, “aku bersedih melihat kondisimu”. Kemudian, Sayyidina ‘Imron Ibnu Khushoy mengucapkan kalimat yang luar biasa, kalimat yang lahir dari keyakinan akan ketentuan terbaik yang Allah berikan untuknya, “Janganlah engkau menangis! Sesengguhnya perkara yang paling dicintai oleh Allah itu adalah perkara yang paling aku cintai juga”.


Selanjutnya, seperti ketawakkalan Nabi Ibrohim ‘alihis salam kepada Allah ketika beliau dilempar kedalam kobaran api oleh raja Namrud, disaat itu juga malaikat menawari berbagai macam pertolongan, akan tetapi Nabi Ibrahim ‘alihis salam menolaknya karena begitu dalam kepercayaannya kepada Allah.

 

Kedua, kelompok hamba yang terkadang meminta dengan doa-doanya. Jangan menganggap bahwa seorang yang ma’rifatullah dengan ‘mengangkat tangan/ meminta’ berarti tidak percaya dengan ketentuan-ketentuan yang Allah berikan kepadanya. Akan tetapi, ini menunjukan sifat adz-dzul wal ‘ajzu, kelemahan dan kehinadinaan seorang hamba. Sebuah sikap yang relevan dengan hakikat seorang hamba, yaitu meratap kepada rabb-Nya.


Seperti doa-doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim‘alihis salam kepada Allah;


رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ


“Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (QS. As-Saffat:100)

 

رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ


"Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri Mekkah ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian." (QS. Al-Baqarah:126)


Dalam kacamata ma’rifat, sikap Nabi Ibrahim 'alihis salam yang terkadang tidak meminta itu disebabkan ketawakkalannya kepada Allah, dan memintanya kepada Allah itu sebagai bentuk hakikat penghambaan. Karena, ada saat-saat dimana orang yang sedang ma’rifat kepada Allah itu bermanja kepada-Nya dengan cara meminta. Tetapi ingat! Dia hanya meminta, bukan memaksa Allah untuk mengabulkan doa-doanya.


Sebuah keburukan itu terjadi jika kemudian seorang hamba mengangkat tangannya untuk meminta kepada manusia dengan mengabaikan Allah. Karena hakikat dari sebuah pemberian adalah Allah pemberinya.


(Rangkuman dari Pengajian rutin Al-Hikam karya Imam Ibnu Atha'illah As-Sakandariy setiap hari Ahad pukul 18.40 WIB bersama Dr. KH. Mohammad Rofiqul A’la, Lc., MA di Pesantren Ar-Risalah).